Latest Posts

10 Jul 2016

Mengembalikan Kewibawaan Pemerintah - Ustadz Afifuddin As-Sidawy



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Dengan mengharap ridho Allah ta'ala semata, hadirilah Pengajian Umum dengan tema; 

Mengembalikan Kewibawaan Penguasa
(Sikap Seorang Muslim Terhadap Pemerintahnya)

Dengan pemateri: 

Al-Ustadz Afifuddin As-Sidawy -hafizhahullah ta'ala-
(Pembina Yayasan Asy-Syari'ah Bojonegoro)

Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Tanggal : 9 Syawal 1437 H (bertepatan dengan 14 Juli 2016)
Jam      : 09.00 BBWI s.d. selesai
Lokasi   : Masjid Besar Ahlussunnah Wal Jama'ah
               (belakang SMPN 1 Dander, Desa Sumberarum, Bojonegoro)

NB: Khusus Ikhwan (laki-laki)

Contact person: Abu Laila 0856-4658-0117 / 0852-3163-6607

21 Apr 2015

[Download] Ketaatan kepada Pemerintah oleh Ust Abu Hamzah

Bismillaah

Download MP3: Kajian Islam Ilmiyah Ahlussunnah wal Jama'ah (untuk umum)

dengan tema: 

 Ketaatan kepada Pemerintah: Prinsip Seorang Muslim terhadap Pemerintah
 dengan pembicara:

Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari

Dilaksanakan pada:

Tgl: Ahad, 26 April 2015 (7 Rajab 1436)
Pukul: 09.00 - selesai
Lokasi: Ma'had Asy Syari'ah. Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jatim


 CP : Abu Laila (0852 3163 6607 ) & (0856 46580 117)



Download rekaman:

Dibuka Pendaftaran Santri Baru Angkatan Kelima

INFO TERBARU


pendaftaran mahad salaf Asy Syariah bojonegoro

Bismillaah

Ma'had Asy Syariah telah membuka pendaftaran santri/santriwati angkatan ke-5 
untuk pendidikan Bahasa Arab dan Diniyah.


Insya Allaah pendaftaran bisa dilakukan pada Mei 2015.
Syarat: Minimal usia 12 tahun


Info lebih lanjut:

Untuk Putra hubungi Abu Laila ( 0852 3163 6607) atau (0856 46580 117)
Untuk Putri hubungi Ummu Maryam (0856 06161 527) atau (081234 063 949)

***

18 Mar 2015

Makna Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salafus Shalih

Makna Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salafus Shalih 


Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.
Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.
Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.
Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)

sumber: http://forumsalafy.net/?p=9264

15 Mar 2015

Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Yang Wajib Kita Tunaikan

Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Yang Wajib Kita Tunaikan

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi hafizhahullah

Hidup di dunia tentu bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Dalam konsep Islam, hidup di dunia tiada lain untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala semata. Itulah hakikat misi penciptaan manusia dan jin di muka bumi ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (adzDzariyat: 56)

Misi penciptaan yang merupakan amanat berat itu telah disanggupi oleh manusia, padahal makhluk-makhluk besar semisal langit, bumi, dan gunung-gunung tak menyanggupinya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat al-Ahzab: 72. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Amanat berat itu akhirnya berada di pundak setiap insan. Allah Subhanahu wata’ala Rabb alam semesta, menjadikannya sebagai ujian. Dengannya akan diketahui siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“(Dialah Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan demi menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

Ujian itu amat berat, sedangkan tabiat dasar manusia amat zalim dan amat bodoh. Dengan kasih sayang-Nya yang sangat luas, Allah Subhanahu wata’ala mengutus orang-orang pilihan (para nabi) sebagai pemberi peringatan bagi yang lalai dari amanat berat itu; sekaligus pemberi kabar gembira bagi yang menjalankannya dengan baik. Allah Subhanahu wata’alasertakan pula kitab suci sebagai pedoman hidup bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi putusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (alBaqarah: 213)

Semua nabi utusan Allah Subhanahu wata’ala itu benar-benar telah menunaikan tugas yang mereka emban. Tidaklah ada satu kebaikan yang mereka ketahui kecuali telah mereka tunjukkan kepada umat kepada. Tidak ada pula satu kejelekan yang mereka ketahui kecuali telah mereka peringatkan umat darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun kecuali melainkan bersungguh-sungguh menunjuki umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang diketahuinya.” (HR. Muslim no. 1844, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma)

Nabi Terbaik yang Diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di Muka Bumi

Di antara para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi terbaik yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini, sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keutamaan yang banyak. Berbagai keutamaan yang tak dimiliki oleh para nabi sebelumnya pun beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sandang. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,


أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُفَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِي المَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّحِألََدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِعَامَّةً
“Aku diberi lima karunia yang belum pernah diberikan kepada seorang (nabi) pun sebelumku: (1) aku diberi kemenangan dengan ditimpakan rasa gentar pada hati musuhku sebulan sebelum bertemu denganku; (2) dijadikan untukku bumi sebagai tempat shalat dan sarana bersuci sehingga siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaknya mengerjakannya di mana saja; (3) dihalalkan bagiku harta pampasan perang yang tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelumku; (4) aku diizinkan memberi syafaat (untuk segenap manusia di hari kiamat); (5) dan sungguh tiap-tiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.”
 (HR. al-Bukhari no. 335,dan Muslim no. 521, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di akhir zaman, memberi kabar gembira danmemberi peringatan, dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menjadi pelita yang menerangi dengan seizin-Nya. Allah Subhanahu wata’ala menutup risalah kenabian dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyelamatkan manusia dari kesesatan dan mengentaskan mereka dari kebodohan. 

Dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa, Allah Subhanahu wata’ala membuka mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan jiwa-jiwa yang terkunci. Bumi yang dipenuhi kegelapan pun menjadi bersinar dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa itu. Jiwa-jiwa yang bercerai-berai menjadi bersatu dengannya, keyakinan yang bengkok menjadi lurus, dan jalan-jalan menjadi terang bercahaya. 

Allah Subhanahu wata’ala telah melapangkan dada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menurunkan beban yang memberati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, meninggikan sebutan (nama) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadikan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dunia lengang dari rasul, kitab-kitab suci(yang murni) telah lenyap, syariat yang lurus telah diselewengkan. Setiap kaum bersandar kepada pendapat mereka yang paling zalim, bahkan menghukumi antara Allah Subhanahu wata’ala dan para hamba-Nya dengan teori-teori yang rusak dan hawa nafsu. 

Melalui beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala menunjuki seluruh makhluk, menjelaskan jalan kebenaran, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, menerangi kebodohan, dan meluruskan penyimpangan yang ada di tengah-tengah mereka. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembagi surga dan neraka (maksudnya, yang menaati beliau masuk ke dalam surga dan yang menyelisihi beliau masuk ke dalam neraka, -pen.). 

Allah Subhanahu wata’ala juga menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembeda antara orang yang baik dan orang yang jahat. Allah Subhanahu wata’ala menetapkan bahwa petunjuk dan keberuntungan akan diraih dengan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kesesatan dan kebinasaan dituai dengan menentang dan menyelisihi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 19/102—103) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah (Nabi Muhammad) dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitabitulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15-16)

Demikianlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amanat ilahi telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tunaikandengan sebaik-baiknya. Segenap nasihat telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada umat. Perjuangan menegakkan kalimat Allah l telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan dengan sebenar-benar perjuangan. Berbagaihalangan dan rintangan, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam hadapi dengan penuh kesabaran. Betapa besarnya jasa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada manusia. Sebesar itu pula sesungguhnya hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallamyang wajib mereka tunaikan. Semakin kuat dalam menunaikan hak-hak beliau, berarti semakin kuat pula dalam merealisasikan syahadat, “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”

Mengenal Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Kata pepatah Arab, faqidusy syai’ la yu’thihi. Artinya, seseorang yang tak punya sesuatu, tak mungkin dapat memberikan sesuatu itu. Demikian pula dalam hal ini, seseorang yang tidak mengenal hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, tak mungkin dapat menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya. 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita selaku umat Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam untuk mengenal hak-hak beliau Shallallahu `alaihi wa sallam agar dapat menunaikannya dengan baik dan tepat. Bila dicermati lebih jauh, sesungguhnyaada di antara manusia yang menunaikan hak-hak beliau Shallallahu `alaihi wa sallam namun masih belum baik dan tepat. 

Mereka adalah,
1. Orang yang bermudah-mudahan dalam menunaikan hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Orang yang berlebihan-lebihan dalam menunaikan hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga memposisikan beliau Shallallahu `alaihi wa sallam sejajar dengan Allah Subhanahu wata’ala. Diberikan kepada beliau sanjungan rububiyah (kekuasaan ilahi) yang sesungguhnya hanya milik Allah Subhanahu wata’ala semata.1

Adapun menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dinilai baik dan tepat adalah manakala tidak keluar dari koridor “abdullah wa rasuluhu”, yakni posisi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala dan utusan-Nya. Sebagai hambaAllah Subhanahu wata’ala beliau tidak boleh disejajarkan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula, sebagai utusan-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam harus dimuliakan, ditaati, dan tidak boleh diselisihi. 

Di antara hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus ditunaikan adalah sebagai berikut.

1. Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallamyang terbesar. Ia adalah amalan mulia yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala pada banyak ayat. Bahkan, ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan realisasi ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. AllahSubhanahu wata’ala berfirman,
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, sungguh dia telah menaati Allah.” (an- Nisa’: 80)
Menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengantarkan kepada kesuksesan yang besar. Allah Subhanahu wata’alaberfirman,
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah meraih sukses yang besar.” (al-Ahzab: 71)

Hidayah dan rahmat Allah Subhanahu wata’ala pun akan diraih dengannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Jika kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.” (an-Nur: 54)
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Taatlah kepada Rasul, niscaya kalian dirahmati.” (an-Nur: 56)

Dengannya pula kenikmatan surga akan didapatkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang besar.” (an-Nisa’: 13)

2. Membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Setiap muslim wajib membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik terkait dengan masa lampau, yang sedang terjadi, maupun yang akan datang. Kabar yang datang dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti benar, walaupun berlawanan dengan logika atau hawa nafsu.3 Sebab, tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur kata kecuali berdasarkan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsu. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3—4)

Sebenarnya pula, logika yang sehat tidak akan bertentangan dengan berita dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti jelek dan mendatangkan murka Allah Subhanahu wata’ala. Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ
“Segala yang dibawa oleh Rasul kepada kalian maka ambillah, dan segala yang kalian dilarang darinya maka tinggalkanlah!”(al-Hasyr: 7)

Maka dari itu, menjauhkan dari dari segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.

4. Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali dengan syariat yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak boleh dilakukan semaunya. Sebab, ibadah ialah munajat dan pendekatandiri (taqarrub) kepada Rabb alam semesta Subhanahu wata’ala. Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala harusdilakukan dengan ikhlas karena-Nya. Demikian pula, ia harus dilakukan sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amalannya ditolak oleh AllahSubhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
. مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَ دّ
“Barang siapa melakukan sebuah amalan (dalam agama ini) yang tidak ada perintahnya dari kami, ia tertolak.” (HR. Muslimno. 1718, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha)4

Empat hak di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab beliau,Tsalatsatul Ushul, ketika menjelaskan konsekuensi syahadat Muhammadar rasulullah.

5. Mengikuti jejak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan dalam segenap sendi kehidupan.


Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (al-Ahzab: 21)

6. Menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemutus dalam segala hal yang diperselisihkan

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)

7. Mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kepada siapa pun

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga aku menjadi yang lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia semuanya.” (HR. Muslim no. 70, dari sahabat Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu)

8. Membela dan tidak menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih.” (at-Taubah: 61)
Akhir kata, demikianlah di antara hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam yang wajib kita tunaikan. Menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berarti merealisasikan syahadat “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah”. Lebih dari itu, dengan menunaikan hakhak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan diraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semoga taufik, hidayah, dan inayah Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengiringi kita, sehingga dimudahkan dalam menunaikan hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin.


Sumber: Majalah Asy Syariah


Penerimaan Santri Baru Angkatan ke 6 Tahun 1437 H / 2016

Ma'had Asy Syari'ah

Ma'had Asy Syari'ah
Jl. Bata Putih RT 30 RW X Sumberarum,
Kec. Dander, Bojonegoro 62171

Kontak:
Abu Laila - 0856-4658-0117 / 0852-3163-6607

Arsip